“UNMASKING PAIN: From Receptors to Relief through Bridging Mechanisms and Care”, Program Studi Spesialis Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Gelar Kuliah Tamu Bersama Pakar Internasional dan Pakar Nasional

From Receptors to Relief through Bridging Mechanisms and Care

Nyeri merupakan salah satu alasan tersering pasien mencari pertolongan medis, namun hingga kini masih menjadi tantangan dalam praktik klinis karena melibatkan mekanisme biologis yang kompleks dan multidimensional. Untuk memperdalam pemahaman mengenai mekanisme nyeri serta perkembangan tata laksana terkini, Program Studi Spesialis Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (FK UNUD) bersama RSUP Prof. I.G.N.G. Ngoerah menggelar kuliah tamu bertajuk “UNMASKING PAIN: From Receptors to Relief through Bridging Mechanisms and Care”, yang bertempat di Auditorium A.A. Made Djelantik Lt. 4 FK Universitas Udayana pada hari Selasa, 9 Juni 2026.

Acara dibuka oleh Dekan FK Universitas Udayana, Prof. Dr. dr. I Gede Eka Wiratnaya, Sp.O.T., Subsp. Onk. Ort. R(K), yang dalam sambutannya beliau yang menekankan pentingnya pemahaman mekanisme dasar nyeri sebagai landasan dalam memberikan pelayanan kesehatan yang optimal dan berbasis bukti ilmiah.

Koordinator Program Studi Spesialis Kedokteran Neurologi FK Universitas Udayana, Dr. dr. I Putu Eka Widyadharma, M.Sc.,Sp.N, Subsp.NN(K),FMIN, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan dan layanan neurologi di Indonesia.
Kegiatan akademik ini menghadirkan pakar nyeri internasional, Prof. Paul Glare AM dari University of Sydney yang mengulas berbagai tantangan serta pendekatan terkini dalam penanganan nyeri kronis pada populasi umum maupun kelompok lanjut usia. dan acara ini juga menghadirkan pakar nyeri nasional, Dr. dr. Jimmy Fransisco Abadinta Barus, M.Sc., Sp.N, yang mengajak memahami kembali bagaimana proses penuaan memengaruhi persepsi, pemrosesan, dan respons terhadap nyeri pada populasi lanjut usia.

Dalam kuliah tamu tersebut, Prof. Paul Glare AM membawakan materi mengenai chronic pain, geriatric pain, and neuropathic pain in Australian practices, yang mengulas berbagai tantangan serta pendekatan terkini dalam penanganan nyeri kronis pada populasi umum maupun kelompok lanjut usia.

Dalam pemaparannya, Prof. Glare menjelaskan bahwa nyeri kronis merupakan masalah kesehatan yang kompleks dan memerlukan pendekatan multidimensional. Menurutnya, keberhasilan terapi tidak hanya ditentukan oleh pengobatan farmakologis, tetapi juga oleh pemahaman terhadap faktor biologis, psikologis, sosial, dan fungsional yang memengaruhi pengalaman nyeri setiap individu.

Pembahasan mengenai nyeri geriatri menjadi salah satu fokus utama kuliah tamu. Prof. Glare menyoroti bahwa populasi lanjut usia memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan kelompok usia lainnya, termasuk adanya multimorbiditas, penggunaan banyak obat secara bersamaan (polypharmacy), serta perubahan fisiologis yang dapat memengaruhi respons terhadap terapi nyeri.

Selain itu, Prof. Glare juga membahas nyeri neuropatik, yaitu nyeri yang timbul akibat lesi atau gangguan pada sistem saraf somatosensorik. Ia menjelaskan bahwa nyeri neuropatik sering kali sulit dikenali dan ditangani karena memiliki karakteristik yang berbeda dengan nyeri nosiseptif. Gejala seperti sensasi terbakar, tersengat listrik, kesemutan, maupun hipersensitivitas terhadap rangsangan ringan memerlukan pendekatan diagnostik dan terapeutik yang spesifik.

Melalui berbagai contoh kasus dalam praktik klinis di Australia, Prof. Glare memaparkan pentingnya identifikasi dini nyeri neuropatik serta penggunaan terapi yang berbasis mekanisme nyeri untuk mencapai hasil yang optimal. Ia juga menekankan bahwa edukasi pasien dan pendekatan multidisiplin memiliki peran penting dalam keberhasilan manajemen nyeri jangka panjang.

Menurut Dr. Jimmy, pemahaman mengenai mekanisme nyeri pada lansia menjadi semakin penting karena nyeri kronis sering kali berkaitan dengan penurunan fungsi fisik, gangguan tidur, depresi, penurunan kemandirian, hingga meningkatnya risiko frailty pada kelompok usia lanjut.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa penilaian nyeri pada pasien geriatri sering menghadapi berbagai tantangan, terutama pada individu dengan gangguan kognitif, demensia, atau keterbatasan komunikasi. Oleh karena itu, tenaga kesehatan perlu memahami berbagai metode asesmen yang sesuai agar nyeri tidak terabaikan maupun tidak ditangani secara kurang optimal. Selain membahas perubahan neurobiologis pada otak yang menua, kuliah tamu ini juga mengulas strategi penatalaksanaan nyeri pada lansia, termasuk pendekatan farmakologis yang mempertimbangkan perubahan farmakokinetik dan farmakodinamik akibat penuaan, serta berbagai intervensi nonfarmakologis yang berperan penting dalam meningkatkan fungsi dan kualitas hidup pasien.

Kuliah tamu ini dipandu oleh moderator Dr. dr. Ida Ayu Sri Wijayanti, M.Biomed., Sp.N, Subsp.NN(K) dan diikuti oleh dokter spesialis, peserta didik Program Studi Spesialis Kedokteran Neurologi. Diskusi berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari peserta yang aktif mengajukan pertanyaan terkait tantangan penatalaksanaan nyeri kronis di Indonesia, khususnya pada pasien lanjut usia dan pasien dengan gangguan neurologis.

Melalui kegiatan ini, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana berharap pemahaman mengenai ilmu nyeri dapat terus berkembang di kalangan tenaga kesehatan sehingga mampu mendukung pelayanan yang lebih komprehensif, berbasis bukti ilmiah, dan berorientasi pada peningkatan kualitas hidup pasien.

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published.