Gelaran akbar ilmiah bidang kesehatan jiwa berskala internasional resmi dibuka di Bali. Mengusung kolaborasi besar antara 5th International Conference on Cultural & Spiritual Psychiatry (ICOSPI) dan Bali Psikiatri Terkini (BATIK) 7, acara ini berlangsung selama tiga hari, mulai tanggal 9 hingga 11 Juli 2026, bertempat di Prime Plaza Hotel Sanur, Bali.
Dengan tema besar “The Symphony of Healing: Integrating Mind, Body, and Culture through Multidisciplinary Psychiatry”, simposium dan lokakarya ini menjadi wadah krusial bagi para profesional, peneliti, pendidik, hingga pembuat kebijakan untuk saling berbagi temuan dan strategi demi memperkuat masa depan layanan psikiatri dan kesehatan holistik.
Di antara berbagai bahasan multidisiplin yang menarik, salah satu topik yang mencuri perhatian besar adalah sesi mengenai pemahaman nyeri. Materi ini dibawakan oleh pakar neurologi terkemuka yang juga menjabat sebagai Koordinator Program Studi (Koprodi) Spesialis Neurologi Universitas Udayana, yaitu Dr. dr. I Putu Eka Widyadharma, M.Sc, Sp.N, Subsp.NN(K), FMIN.
Dalam pemaparannya yang bertajuk “Pain Modulation and Response: Why Every Person is Different?”, dr. Eka Widyadharma mengupas tuntas alasan medis dan biologis mengapa setiap individu memiliki ambang batas serta respons yang berbeda-beda terhadap rasa nyeri. Nyeri tidak lagi dilihat hanya sebagai gejala fisik semata, melainkan sebuah proses kompleks yang melibatkan modulasi saraf, psikologis, hingga latar belakang budaya seseorang. Melalui pendekatan multidisiplin yang sejalan dengan tema ICOSPI-BATIK tahun ini, sesi ini berhasil membedah bagaimana otak dan sistem saraf pusat menyaring, memperkuat, atau justru menekan sinyal nyeri secara unik pada setiap orang. Simposium ini menjadi platform luar biasa untuk menjembatani ilmu saraf dengan aspek budaya dan spiritual, membuktikan bahwa penyembuhan yang efektif harus melihat manusia secara utuh dari pikiran, tubuh dan budaya.
Penggabungan ICOSPI ke-5 dan BATIK ke-7 ini menegaskan komitmen bersama dalam memajukan pengetahuan kesehatan mental dan keunggulan klinis melalui inovasi serta pertukaran ide yang bermakna. Kehadiran para pakar seperti dr. Eka Widyadharma diharapkan dapat memberikan wawasan baru bagi para praktisi klinis dalam memberikan tata laksana nyeri yang lebih personal (personalized medicine) dan humanis bagi pasien di masa depan.
