Seminar Usulan Penelitian Program Studi Spesialis Neurologi FK Universitas Udayana 2025 : Upaya Pengembangan Ilmu Neurologi Berbasis Data dan Konteks Lokal

Seminar Usulan Penelitian Program Studi Spesialis Neurologi FK Universitas Udayana 2025 : Upaya Pengembangan Ilmu Neurologi Berbasis Data dan Konteks Lokal 7

Denpasar – Deretan isu dalam bidang ilmu penyakit saraf seperti nyeri neuropatik, gangguan kognitif, gangguan tidur, dampak psikososial caregiving, hingga komplikasi neurologis pada kanker dan infeksi, menjadi fokus utama dalam ujian proposal tesis ilmiah mahasiswa Program Studi Spesialis Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (FK Universitas Udayana). Ujian yang dilaksanakan dari tanggal 27 Maret, 21 Mei hingga 3 Juni 2025 ini, tidak hanya menjadi bagian dari kurikulum akademik, tetapi juga menampilkan kontribusi nyata calon dokter spesialis saraf terhadap berbagai permasalahan kesehatan masyarakat Indonesia.

Seminar Usulan Penelitian Program Studi Spesialis Neurologi FK Universitas Udayana 2025 : Upaya Pengembangan Ilmu Neurologi Berbasis Data dan Konteks Lokal 2
dr. I Made Maha Candra Budaya – “Hubungan Kadar Serotonin Plasma dengan Skor Beck Depression Inventory-II pada Informal Caregiver Pasien Demensia”

Mengawali rangkaian solusi inovatif yang dirangkai dalam usulan proposal penelitian, dr. Daniel Mahendrakrisna dengan isu yang tiada hentinya menjadi kewaspadaan pada masyarakat yaitu masalah HIV yang meneliti “Kadar C-X-C Motif Chemokine Ligand 10 (CXCL10) Plasma Tinggi sebagai Faktor Risiko terjadinya HIV-Associated Neurocognitive Disorders (HAND) pada Pasien dengan Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Diharapkan kedepannya penelitian tersebut dapat bermanfaat sebagai penapisan awal penderita HIV untuk mencegah gangguan kognitif. Masih terkait dengan infeksi, dr. Fidelya Christy Rajagukguk mengangkat isu klasik yang masih masih menjadi ancaman lama yang relevan muncul di Bali yaitu terkait isu tetanus dalam penelitiannya berjudul “Karakteristik Demografi dan Tatalaksana Tetanus Generalisata di RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah Periode Januari 2022–Desember 2024”. Dalam konteks global yang terus mengejar eliminasi penyakit infeksi, kasus tetanus masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Studi ini menyoroti pentingnya optimalisasi tatalaksana dan pemetaan epidemiologi lokal untuk menekan angka morbiditas dan mortalitas.

dr. Fidelya Christy Rajagukguk – “Karakteristik Demografi dan Tatalaksana Tetanus Generalisata di RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah Periode Januari 2022–Desember 2024”

Isu lain di tengah meningkatnya angka diabetes melitus di Indonesia, dua dokter yang sedang menjalankan pendidikan dokter spesialis neurologi ini mengkaji dampak komplikasi neurologis dari penyakit Diabetes Mellitus. Dokter Putu Indah Mahardika Putri meneliti “Hubungan Kadar Nerve Growth Factor (NGF) dengan Skor Neuropathic Pain Questionnaire (NPQ) dan Skor WHO Quality of Life-BREF pada Pasien Neuropati Diabetik”. Ia menekankan bahwa biomarker seperti NGF dapat menjadi indikator penting untuk pendekatan terapi yang lebih personal. Sementara itu, dr. Ida Bagus Oka Garbhajana Sirinatha membahas “Hubungan Kadar High Sensitivity C-Reactive Protein (hsCRP) terhadap Fungsi Kognitif Lansia dengan Diabetes Melitus Tipe 2”. Kajian ini menunjukkan keterkaitan antara inflamasi kronis dan gangguan kognitif, menyoroti potensi hsCRP sebagai prediktor dini demensia pada pasien diabetes, sebuah isu krusial mengingat populasi lansia Indonesia terus bertambah.

dr. Putu Indah Mahardika Putri – “Hubungan Kadar Nerve Growth Factor (NGF) dengan Skor Neuropathic Pain Questionnaire (NPQ) dan Skor WHO Quality of Life-BREF pada Pasien Neuropati Diabetik”
dr. Ida Bagus Oka Garbhajana Sirinatha – “Hubungan Kadar High Sensitivity C-Reactive Protein (hsCRP) terhadap Fungsi Kognitif Lansia dengan Diabetes Melitus Tipe 2”

Tak hanya gangguan fisik, kesejahteraan mental pasien juga menjadi sorotan. dr. Dian Rizki Fitria mengangkat “Perbedaan Kualitas Hidup, Kualitas Tidur, dan Derajat Depresi pada Pasien Morbus Hansen dengan dan tanpa Nyeri Neuropatik”. Di tengah upaya global menghapus stigma kusta, studi ini menegaskan bahwa penanganan nyeri kronis perlu memperhatikan dimensi psikologis pasien. Masih dalam ranah kesejahteraan mental, dr. I Made Maha Candra Budaya mengusung topik “Hubungan Kadar Serotonin Plasma dengan Skor Beck Depression Inventory-II pada Informal Caregiver Pasien Demensia”. Dalam masyarakat Indonesia yang mengandalkan perawatan keluarga, caregiver kerap menghadapi tekanan emosional tinggi. Temuan ini menekankan perlunya intervensi preventif terhadap depresi pada pengasuh, kelompok yang selama ini kerap terabaikan dalam sistem kesehatan.

dr. Dian Rizki Fitria – “Perbedaan Kualitas Hidup, Kualitas Tidur, dan Derajat Depresi pada Pasien Morbus Hansen dengan dan tanpa Nyeri Neuropatik”
dr. I Made Maha Candra Budaya – “Hubungan Kadar Serotonin Plasma dengan Skor Beck Depression Inventory-II pada Informal Caregiver Pasien Demensia”

Berbagai macam isu di bidang ilmu penyakit saraf tentunya masih banyak yang bisa kita kembangkan untuk penelusuran lebih lanjut seperti pada bidang onkologi. dr. Sakinah Mar’ie Sanad dalam penelitiannya “Kadar HER-2 Positif sebagai Prediktor Terjadinya Metastasis Serebral pada Pasien Kanker Payudara” menyoroti pentingnya deteksi dini untuk mencegah komplikasi neurologis pada kanker. Di era pengobatan presisi, pendekatan molekuler seperti ini menjadi kunci untuk meningkatkan harapan hidup pasien. Menutup rangkaian inovasi yang disajikan pada usulan proposal ini, dr. Rossy Triana menyoroti hubungan antara metabolisme dan gangguan neurologis dalam proposalnya “Hubungan Kadar Asam Urat Serum terhadap Kualitas Tidur pada Pasien Stroke Iskemik”. Dengan angka kejadian stroke yang tinggi di Indonesia, pendekatan holistik yang mencakup pola tidur dan biomarker metabolik dinilai penting dalam mempercepat pemulihan pasien.

dr. Sakinah Mar’ie Sanad – “Kadar HER-2 Positif sebagai Prediktor Terjadinya Metastasis Serebral pada Pasien Kanker Payudara”
dr. Rossy Triana – “Hubungan Kadar Asam Urat Serum terhadap Kualitas Tidur pada Pasien Stroke Iskemik”

Kedelapan proposal ini mencerminkan evolusi riset neurologi ke arah yang lebih transdisipliner dan kontekstual. Dari infeksi klasik hingga onkologi modern, dari nyeri kronis hingga depresi caregiver, semua isu disajikan dengan pendekatan berbasis bukti dan sensitivitas terhadap kondisi lokal Bali dan Indonesia. Kegiatan ujian proposal ini tidak hanya menjadi sarana akademik, tetapi juga menegaskan peran strategis Universitas Udayana dalam memajukan kesehatan neurologis berbasis kebutuhan masyarakat dan inovasi ilmiah. Dengan pendekatan yang integratif dan humanistik, para calon dokter spesialis saraf ini siap memberi kontribusi nyata dalam menjawab tantangan kesehatan era modern.

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published.